Maraknya kasus hamil diluar nikah atau hamil dini yang dialami oleh kaum
remaja semasa sekolah menjadi perhatian bagi beberapa orangtua dan oknum-oknum
pendidikan dalam hal membentuk kepribadian dan moral siswa-siswi di Indonesia.
Terpengaruhnya budaya oleh pandangan-pandangan luar yang menggambarkan bahwa
kehidupan seks bukanlah sesuatu yang tabu lagi, juga menjadi alasan yang kuat
atas perubahan perilaku kaum remaja. Dari permasalahan diatas, dapat kita
benturkan dengan sifat alami remaja yang masih pada tahap transisi menuju kedewasaan.
Adanya rasa penasaran yang besar dan keingintahuan yang kuat mendorong mereka
untuk mencoba-coba hal-hal yang mungkin belum pantas untuk dilakukan seperti sex
bebas yang berakhir pada penyesalan.
Sulitnya untuk memilah dan menolak pengaruh budaya luar yang ada, kini
menjadi permasalahan bagi beberapa individual. Maka dibutuhkanya sebuah pengetahuan
yang dapat meminimalisir kemungkinan dampak yang ada yaitu “SEX EDUCATION”
sebagai salah satu materi pembelajaran di sekolah. Kita bisa membuat persamaan
dengan dimasukanya pendidikan agama di sekolah yang pada dasarnya menjadi
privasi bagi beberapa individual, tetapi dikarenakanya agama sebagai besik yang
paling mendasar dan yang paling dekat dengan setiap individu maka diterapkanya
materi tersebut. Sama halnya dengan dunia Seks, yang kini menjadi begitu dekat
dengan setiap individu di berbagai lingkungan. Maka dari alasan tersebut,
perlunya memberikan hal mendasar akan hal itu di sekolah.
Ada dua aspek yang perlu di analisa dalam hal ini, yaitu dari aspek
pendidikan dan pengajar. Pendidikan yang berumus pada sebuah kurikulum harus
disesuaikan dengan kondisi sumberdaya atau manusia yang menjadi tujuannya. Dengan
adanya perubahan pada lingkungan dan budaya masyarakat yang ada maka penambahan
kurikulum sex education ini juga akan sejalan dengan tujuan sebuah kurikulum
dalam struktur pendidikan. Karna hal ini akan mendukung dalam pembentukan
karakter dan kepribadian murid yang menjadi objeknya. Sekolah menjadi lahan
kedua dalam pembentukan karakter dan kepribadian tersebut dimana adanya
pendalaman dan pendekatan yang lebih umum dan di sesuaikan oleh kondisi
masyarakat yang ada. Pada aspek pengajar, guru memilik peran dan posisi yang
sangat penting dalam pemberian materi. Pengajar harus memberikan
pengertian-pengertian yang mudah dipahami oleh murid sehingga tidak menimbulkan
banyaknya pertanyaan yang mungkin dapat memicu rasa keingintahuan murid. Dengan
melakukan pendekatan yang mudah di terima sehingga tidak menimbulkan kesan tabu
dalam proses pembelajaranya.
Dibutuhkanya beberapa mekanisme dan langkah-langkah dalam penyampain sex
education di sekolah. Pada awalnya penyampaian akan bahaya-bahaya yang akan di
akibatkan oleh seks terlebih dahulu, Seperti Adanya penyakit HIV Aids, Aborsi
dan sebagainya yang bertujuan untuk menimbulkan rasa ketakutan pada murid
ketika mereka ingin mencobanya. Selanjutnya di butuhkanya perkenalan tentang
alat-alat reproduksi dan proses reproduksi pada laki-laki dan wanita. dan yang terakhir
adalah alat-alat yang dapat digunakan sebagai pengaman dalam hubungan seks untuk
menghindari penyakit yang mungkin timbul akibat seks tersebut.
Dengan adanya pengetahuan-pengetahuan dan pemahaman pada murid di
sekolah, dimaksudkan untuk mencegah adanya rasa penasaran yang berlebih dan
keingintahuan di kalangan ramaja. Sehingga remaja tidak akan salah lagi dalam
penyaluran rasa penasaran meraka berasa pasanganya ke hal-hal yang dapat
membahayakan atau merugikan dirinya sendiri.
buat kalian yang pengen nyoba ikut buat paper tentang judul diatas, tinggal (klik) link ini aja yaa ..... www.beasiswadataprint.com atau www.dataprint.co.id . semoga bermanfaat :)
buat kalian yang pengen nyoba ikut buat paper tentang judul diatas, tinggal (klik) link ini aja yaa ..... www.beasiswadataprint.com atau www.dataprint.co.id . semoga bermanfaat :)